Mengetahui format penulisan jurnal Scopus yang benar merupakan langkah awal paling krusial sebelum Anda mengirimkan manuskrip ke penerbit internasional bereputasi. Banyak artikel ilmiah dari dosen atau peneliti Indonesia langsung mengalami desk rejection (penolakan di tahap awal oleh editor) bukan karena substansi penelitiannya buruk, melainkan karena format dan struktur penulisannya tidak memenuhi standar internasional.
Artikel ini akan mengupas tuntas format penulisan jurnal Scopus standar dunia yang menggunakan struktur IMRAD (Introduction, Method, Results, and Discussion), komponen-komponen penting di dalamnya, serta tips taktis agar artikel Anda lolos sensor editor.
Daftar Isi
ToggleJurnal yang terindeks di database Scopus dikelola oleh dewan editor internasional yang sangat menjaga kualitas publikasi. Format penulisan yang seragam dan sistematis diperlukan agar:
Baca Juga : Cara Daftar Scopus
Secara umum, mayoritas jurnal internasional bereputasi tinggi menggunakan struktur baku bernama IMRAD. Berikut adalah tabel anatomi lengkap format penulisan jurnal Scopus dari halaman awal hingga bagian referensi:
| Komponen Artikel | Deskripsi & Fokus Utama | Estimasi Proporsi Kata |
|---|---|---|
| Title (Judul) | Singkat, padat, menarik, mencerminkan novelty, dan hindari singkatan tidak umum (Maksimal 12-15 kata). | – |
| Abstract & Keywords | Ringkasan utuh mencakup: Latar belakang (1 kalimat), Tujuan, Metode singkat, Hasil utama, dan Kesimpulan (150-250 kata). Keywords terdiri dari 3-5 kata kunci penting. | Halaman Pertama |
| Introduction (Pendahuluan) | Latar belakang masalah, analisis kesenjangan penelitian (gap analysis), kajian literatur terkini (state-of-the-art), dan pernyataan tegas tentang keterbaruan (novelty). | 15% – 20% |
| Method (Metodology) | Penjelasan rinci mengenai desain penelitian, populasi/sampel, instrumen, prosedur pengumpulan data, dan teknik analisis data secara transparan. | 15% – 20% |
| Results (Hasil Riset) | Penyajian temuan riset secara objektif dan sistematis. Wajib dibantu dengan tabel, grafik, atau diagram yang self-explanatory. Jangan mengulang data tabel di narasi teks. | 20% – 25% |
| Discussion (Pembahasan) | Interpretasi hasil temuan, membandingkan hasil Anda dengan penelitian terdahulu (apakah mendukung atau menyanggah), serta implikasi ilmiah dari riset tersebut. | 30% – 35% |
| Conclusion (Kesimpulan) | Jawaban atas pertanyaan riset, keterbatasan penelitian (limitations), dan rekomendasi/saran untuk penelitian masa depan. | 5% – 10% |
| References (Daftar Pustaka) | Daftar rujukan yang dikutip langsung dalam teks. Umumnya menggunakan style APA, Harvard, IEEE, atau Vancouver sesuai regulasi spesifik jurnal tujuan. | Minimal 30 Sumber |
Attention! Kami hanya menyediakan 10 Slot saja untuk pendampingan publikasi jurnal Scopus di tahun ini. Pada bulan ini, tersisa 3 Slot terakhir.
Judul adalah hal pertama yang dilihat oleh reviewer. Format penulisan jurnal Scopus menuntut judul yang mencerminkan inti masalah tanpa kata-kata klise seperti “Studi tentang…”, “Analisis terhadap…”, atau “Pengaruh X terhadap Y di Lokasi Z” (kecuali jika lokasi memberikan keunikan konteks yang ekstrem). Gunakan judul yang langsung menonjolkan temuan utama.
Di bagian akhir pendahuluan, Anda wajib meletakkan gap analysis. Tunjukkan apa yang terlewat atau belum diselesaikan oleh para peneliti terdahulu selama 3-5 tahun terakhir. Setelah itu, rumuskan kalimat penegas novelty seperti:
“While previous studies heavily focused on quantitative analysis of X, this study fills the gap by providing an in-depth qualitative evaluation using…”
Beberapa jurnal Scopus meminta bagian Results dan Discussion dipisah, sementara yang lain memperbolehkan digabung. Jika dipisah, pastikan bagian Results hanya berisi data murni dan fakta, sedangkan analisis mendalam, argumentasi, dan komparasi dengan teori diletakkan sepenuhnya di bagian Discussion.
Tabel dalam format jurnal Scopus biasanya menggunakan format tabel tiga garis (horizontal lines only), yaitu garis atas header, garis bawah header, dan garis penutup di paling bawah tabel. Hindari penggunaan garis vertikal di dalam tabel karena tidak sesuai dengan standar publikasi internasional.
Attention! Kami hanya menyediakan 10 Slot saja untuk pendampingan publikasi jurnal Scopus di tahun ini. Pada bulan ini, tersisa 3 Slot terakhir.
Menguasai format penulisan jurnal Scopus adalah kunci mutlak jika Anda ingin naskah ilmiah Anda diterima oleh komunitas akademik global. Dengan mengikuti pola IMRAD yang ketat, menonjolkan keterbaruan riset secara eksplisit di bab pendahuluan, serta menyusun visualisasi data dan referensi secara profesional, peluang artikel Anda lolos review akan meningkat secara signifikan.
Sebagian besar jurnal di bidang Sains, Teknologi, Teknik, Kedokteran, dan Sosial menggunakan format IMRAD. Namun, untuk beberapa bidang khusus seperti Hukum atau Humaniora murni, strukturnya bisa berupa esai tematis yang disesuaikan dengan gaya selingkung jurnal masing-masing.
Rata-rata jurnal terindeks Scopus menerapkan batas similarity index maksimal 15% hingga 20% menggunakan aplikasi pengecek seperti Turnitin atau iThenticate. Pastikan juga kesamaan dengan satu sumber tunggal tidak boleh lebih dari 1% – 2%.
Untuk proses penyusunan awal tentu diperbolehkan, namun saat proses submission ke jurnal terindeks Scopus, artikel wajib sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris akademik (atau bahasa internasional resmi lainnya yang diakui oleh jurnal tersebut) dengan standar kualitas tinggi.
Publikasi Indonesia merupakan lembaga publikasi ilmiah yang berfokus pada pendampingan penulis dalam proses publikasi artikel di jurnal nasional dan internasional terakreditasi.