

Cara Menulis Daftar Pustaka Tanpa Nama Pengarang, Salah satu masalah yang paling sering bikin mahasiswa bingung saat menyusun karya ilmiah adalah menemukan sumber referensi dari internet yang tidak mencantumkan nama penulis sama sekali.
Bukan berarti sumber itu tidak layak dipakai. Hampir semua panduan sitasi APA, MLA, dan Chicago sebenarnya sudah punya aturan baku untuk kasus seperti ini hanya saja jarang dibahas secara eksplisit.
Di artikel ini, kamu akan menemukan: prinsip dasar penulisan daftar pustaka tanpa nama pengarang, format lengkap untuk gaya APA, MLA, dan Chicago, cara menangani sumber yang juga tidak punya tahun terbit, kesalahan paling umum yang wajib dihindari, dan panduan menilai kelayakan sumber semacam ini. Semua dalam satu tempat.
Daftar Isi
ToggleKetika sumber tidak memiliki nama pengarang yang bisa diidentifikasi, judul artikel dipindahkan ke posisi yang biasanya diisi nama penulis. Elemen lain tetap wajib dicantumkan seperti biasa.
| Elemen | Ketentuan |
|---|---|
| 📌 Judul Artikel | Menempati posisi yang biasanya diisi nama penulis |
| 📅 Tahun Terbit | Dicantumkan jika tersedia; jika tidak, tandai dengan “n.d.” (khususnya di APA) |
| 🏢 Nama Situs/Lembaga | Tetap disertakan sebagai penerbit |
| 🔗 URL | Wajib ditulis lengkap, bukan tautan yang dipendekkan |
Berikut format lengkap untuk tiga gaya sitasi yang paling umum dipakai di Indonesia.
Judul artikel dipindahkan ke posisi awal, tepat sebelum tahun terbit.
| Situasi | Contoh Penulisan |
|---|---|
| Tahun terbit tersedia | Pengertian Energi Terbarukan. (2023). Kementerian ESDM. https://www.esdm.go.id/energi-terbarukan |
| Tahun terbit tidak ada | Panduan Penelitian Kualitatif. (n.d.). Universitas Indonesia. https://www.ui.ac.id/penelitian-kualitatif |
| Diterbitkan lembaga resmi | Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2022). Panduan Akreditasi Jurnal. https://www.kemdikbud.go.id/… |
Judul artikel ditulis dalam tanda kutip dan diletakkan paling depan.
| Situasi | Contoh Penulisan |
|---|---|
| Tanggal terbit tersedia | “Pengertian Energi Terbarukan.” Kementerian ESDM, 12 Mei 2023, https://www.esdm.go.id/energi-terbarukan. |
| Tanggal terbit tidak ada | “Panduan Penelitian Kualitatif.” Universitas Indonesia, https://www.ui.ac.id/penelitian-kualitatif. |
Sama seperti MLA, judul artikel diletakkan di posisi paling depan.
| Situasi | Contoh Penulisan |
|---|---|
| Contoh lengkap | “Pengertian Energi Terbarukan.” Kementerian ESDM. https://www.esdm.go.id/energi-terbarukan (diakses 20 Februari 2026). |
Untuk kasus paling ekstrem sumber tanpa nama penulis dan tanpa tahun terbit gunakan judul di posisi penulis, lalu tandai tahun dengan “n.d.” (khusus gaya APA).
Sumber jadi sulit ditelusuri ulang oleh pembaca atau penguji jika hanya dicantumkan sebagian alamat.
Jika memang tidak tersedia, tetap wajib ditandai dengan “n.d.”, bukan dikosongkan begitu saja.
Tautan seperti bit.ly atau tinyurl kurang kredibel dan berisiko rusak (link rot) di kemudian hari.
Banyak yang mengira sumber dari lembaga otomatis “tanpa penulis”, padahal nama institusi penerbit sah digunakan sebagai pengganti nama pengarang individu.
Sumber semacam ini masih bisa digunakan, dengan syarat:
🌐
Domain Resmi
Berasal dari .ac.id, .go.id, atau .org
✅
Informasi Jelas
Dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya
🎯
Relevan
Sesuai dengan topik yang sedang diteliti
Ketiadaan nama pengarang bukan alasan untuk melewatkan sumber yang relevan. Selama mengikuti kaidah tiap gaya sitasi menempatkan judul artikel sebagai pengganti nama penulis, mencantumkan tahun (atau “n.d.” jika tidak ada), serta menyertakan URL lengkap daftar pustaka tetap bisa disusun secara rapi dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Ya, selama sumber tersebut berasal dari situs atau institusi yang kredibel dan informasinya bisa diverifikasi.
Tidak disarankan. Judul artikel dan nama situs penerbit tetap harus dicantumkan sesuai format sitasi yang dipilih URL saja tidak cukup.
Boleh digunakan sebagai referensi, tetapi perlu dicek dulu kredibilitas dan relevansinya dengan topik. Untuk penelitian akademik formal, jurnal ilmiah tetap jadi pilihan yang lebih disarankan.
APA lebih banyak dipakai di bidang sosial, psikologi, dan pendidikan, sementara MLA lebih umum digunakan di bidang humaniora seperti sastra dan bahasa.
Publikasi Indonesia merupakan lembaga publikasi ilmiah yang berfokus pada pendampingan penulis dalam proses publikasi artikel di jurnal nasional dan internasional terakreditasi.
Gabung Komunitas WhatsApp Publikasi Indonesia. Info jurnal nasional terbaru langsung masuk ke HP Anda.